Minggu, 24 Juli 2011

Waktu Waktu Sholat

Sumber: darussalaf.or.id
Oleh: Abu Ishaq Muslim Al Atsari

Waktu-waktu Shalat

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّ الصَّلاَةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا

Sesungguhnya shalat itu merupakan kewajiban yang ditetapkan waktunya bagi kaum mukminin.” (An-Nisa`: 103)

أَقِمِ الصَّلاَةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَى غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْءَانَ الْفَجْرِ إِنَّ قُرْءَانَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا

Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan dirikan pula shalat subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan oleh malaikat.” (Al-Isra`: 78)
Shalat dianggap sah dikerjakan apabila telah masuk waktunya. Dan shalat yang dikerjakan pada waktunya ini memiliki keutamaan sebagaimana ditunjukkan dalam hadits Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu:
 
سَأَلْتُ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم: أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللهِ؟ قَالَ: الصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا. قَالَ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: بِرُّ الْوَالِدَيْنِ. قَالَ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: الْجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللهِ

Aku pernah bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Amal apakah yang paling dicintai oleh Allah?” Beliau menjawab, “Shalat pada waktunya.” “Kemudian amalan apa?” tanya Ibnu Mas`ud. “Berbuat baik kepada kedua orangtua,” jawab beliau. “Kemudian amal apa?” tanya Ibnu Mas’ud lagi. “Jihad fi sabilillah,” jawab beliau.” (HR. Al-Bukhari no. 527 dan Muslim no. 248)

Sebaliknya, bila shalat telah disia-siakan untuk dikerjakan pada waktunya maka ini merupakan musibah karena menyelisihi petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, seperti yang dikisahkan Az-Zuhri rahimahullahu, ia berkata, “Aku masuk menemui Anas bin Malik di Damaskus, saat itu ia sedang menangis. Aku pun bertanya, ‘Apa gerangan yang membuat anda menangis?’ Ia menjawab, ‘Aku tidak mengetahui ada suatu amalan yang masih dikerjakan sekarang dari amalan-amalan yang pernah aku dapatkan di masa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kecuali hanya shalat ini saja. Itupun shalat telah disia-siakan untuk ditunaikan pada waktunya’.” (HR. Al-Bukhari no. 530)

Rabu, 13 Juli 2011

Tips Buat Ayah Agar Tetap Dekat Dengan Anak

Surabaya (Mediabidan.com) 

Hasil riset dan para psikologi banyak yang menyatakan bahwa peran ayah sangat penting dalam pertumbuhan seorang anak. Ikatan emosional antara ayah dan anak, ditentukan salah satunya oleh interaksi antara ayah dan anak itu sendiri.

Interaksi yang baik antara anak dan ayah ini, dikatakan sangat mempengaruhi kecerdasan emosional seorang anak yang membuatnya tumbuh menjadi sosok dewasa yang berhasil.
Bagaimana seorang ayah yang sibuk bekerja di luar tetap bisa mempererat dan menjalin ikatan emosional ini?

Di bawah ini adalah tips-tips bagi Seorang Ayah :

1. Persiapkan diri Anda sedini mungkin sejak istri Anda hamil
Mengikuti persiapan persalinan berupa senam, membaca buku bersama mengenai kehamilan, cara merawat bayi atau berbelanja bersama untuk menyambut kelahiran sang bayi. Bila memungkinkan temanilah istri Anda dalam persalinan. Melihat langsung perjuangan istri Anda, dan detik-detik terdengarnya tangisan bayi yang lahir ke dunia ini, akan menambahkan rasa sayang dan kasih Anda baik kepada istri maupun anak Anda.

Ayah Yang Jujur

Oleh: Muhammad Yusuf Efendi
Sumber: Islamedia

Ketika seorang ayah ingin membangun kehidupan keluarga yang kuat, maka dibutuhkan saling percaya antara anggota keluarga. Ayah memberikan peranan penting untuk memulai dengan bersikap jujur. Anak-anak akan selalu belajar dari kehidupan bahwa kebaikan adalah terbentuk dari teladan yang baik. Dengan memberikan sikap yang jujur akan membantu anak untuk menerima kebenaran walaupun itu adalah pahit.
Rasulullah SAW memberikan nasehat bagaimana menyikapi kebenaran dalam sebuah hadistnya, "Katakanlah yang benar walaupun ia adalah pahit". 

Hadist ini membentuk seorang Muslim untuk selalu bersikap jujur dalam setiap perkataannya, berani menegakkan kebenaran dan berani mengungkap segala bentuk kebohongan yang ada. Ia yakin bahwa apa yang dilakukannya akan mendapat balasan yang setimpal dan adil. Ia tidak takut dengan celaan dan pujian yang membuat merubah kejujuran. Kejujuran yang menjadi prinsip hidupnya. Kejujuran dalam perkataan, perbuatan dan kemampuan. Jujur dengan kemampuan diri sendiri akan memaksimalkan diri sendiri. Ia tidak akan memaksakan dirinya untuk melakukan sesuatu di luar kemampuan dan keterbatasannya. Karena itu kejujuran memerlukan pemahaman diri. Siapakan dirinya sebenarnya, seperti apa kemampuan yang dimilikinya.

Lawan dari kejujuran adalah kebohongan. Rasulullah SAW mengajarkan ummatnya untuk berhati-hati terhadap kebohongan, “Sesunggguhnya kebohongan adalah satu diantara beberapa pintu kemunafikan”. Seseorang yang melakukan kebohongan maka sebenarnya ia sedang berada dalam proses membuka pintu kemunafikan. Selanjutnya Rasulullah SAW berkata bahwa, ada tiga tanda-tanda orang yang disebut munafik :
1. jika berkata, ia berdusta,
2. jika berjanji, ia ingkar dan
3. jika diberi amanah dan kepercayaan, ia berkhianat.
Ketika seseorang berbohong dengan mudah dan dilakukannya tanpa beban, maka berkata benar merupakan sesuatu yang sangat berat baginya. Sehingga akhirnya hidupnya penuh dengan kebohongan.
 

Ayah Pelukis Masa Depan Anak

Oleh: Muhammad Yusuf Effendi
Sumber: Islamedia
 
Ayah adalah pelukis kehidupan anaknya, dan akan menjadi bagian penoreh sejarah kehidupannya. Bahkan keberhasilan anak yang menoreh sejarah yang hebat, akan melibatkan peran ayah sebagai guru bagi anaknya. Setiap gores pena kehidupan seorang ayah akan menampilkan bentuk kehidupan yang akan dimiliki oleh anaknya kelak.

Masa muda bagi anak adalah masa yang menyenangkan, masa mereka melihat hal yang baru, dan mencobanya. Masa mereka mulai untuk mandiri memapaki jalan hidupnya sendiri. Masa seorang anak mulai melakukan sesuatu yang mirip dengan apa yang dapat dilakukan oleh ayahnya. George Bernard Shaw mengatakan bahwa “Masa muda adalah masa terindah; sayang sekali orang muda suka menyia-nyiakannya.” Ayah adalah pengantar anak-anaknya untuk menghadapi masa muda dengan hal-hal yang dapat mendatangkan manfaat. Prinsip berbagi manfaat yang diajarkan Al-Quran kepada kita adalah, kebaikan yang dilakukan kepada orang lain, pada akhirnya akan kembali kepada pelakunya sendiri. Kitalah yang akan lebih banyak menerima manfaat daripada orang yang menerima pertolongan kita.