Rabu, 13 Juni 2012

100 Tahun, 1000 Tahun, 2000 Tahun atau 3000 Tahun Lagi

Sumber : Eramuslim.com

Awan sedikit mendung, ketika kaki kaki kecil Yani berlari-lari gembira di atas jalanan menyeberangi kawasan lampu merah Karet. Baju merahnya yang kebesaran melambai lambai di tiup angin. Tangan kanannya memegang es krim sambil sesekali mengangkatnya ke mulutnya untuk dicicipi, sementara tangan kirinya mencengkram ikatan sabuk celana ayahnya.

Yani dan ayahnya memasuki wilayah pemakaman umum Karet, berputar sejenak ke kanan dan kemudian duduk di atas seonggok nisan "Hj Rajawali binti Muhammad 19-10-1905 : 20-01-1965"

"Nak, ini kubur nenekmu mari kita berdo'a untuk nenekmu"
Yani melihat wajah ayahnya, lalu menirukan tangan ayahnya yang mengangkat ke atas dan ikut memejamkan mata seperti ayahnya. Ia mendengarkan ayahnya berdo'a untuk neneknya....

"Ayah, nenek waktu meninggal umur 50 tahun ya yah." Ayahnya mengangguk sembari tersenyum sembari memandang pusara Ibu-nya.

"Hmm, berarti nenek sudah meninggal 36 tahun ya yah..." kata Yani berlagak sambil matanya menerawang dan jarinya berhitung.

"Ya, nenekmu sudah di dalam kubur 36 tahun ... "
 

Berubah Dengan Mimpi-Mimpi Besar

Sumber: Dakwatuna.com

Saya yakin, bahwa kita semua pasti menginginkan perubahan ke arah yang lebih baik. Namun tak semua orang mampu untuk menggapai dan melakukan perubahan itu. Mungkin karena ia merasa belum siap dengan perubahan, atau bisa jadi karena tidak punya nyali (lemah mental, atau tidak mau meninggalkan tabiat dan kebiasaan lama) untuk menerima perubahan itu.

Namun sebagai seorang mukmin seharusnya kita tidak lagi mempertanyakan diri kita siap atau tidak, pantas atau tidak, akan tetapi sebaliknya kita justru harus mencari dan mengejar perubahan itu, karena nasib tidak akan berpihak kepada orang yang hanya berdiam diri saja. “Innallaha la yughayyiru ma bi kaumin hatta yughayyiru ma bi anfusihim”.

Barangkali banyak kisah yang dapat mengetuk pintu hati kita. Dalam berbagai riwayat banyak yang menyimpulkan bahwa perubahan besar sering kali dilakukan oleh insan-insan yang memiliki mimpi-mimpi besar. Mereka yang sayang akan hidupnya yang sementara ini, segera mengambil keputusan untuk melakukan perubahan. Sebut saja seorang pencari hakikat kebenaran (Al-Bahits ‘an al- haqiqah) Salman Al-farisi, sahabat yang menjadi aktor penting dalam perang Khandak.
 

Jumat, 25 November 2011

Berkorban Adalah Rumus Kemuliaan

Sumber: Hidayatullah


TIDAK terasa paham materialisme sepertinya telah menjadi ’kangker ganas’ yang tengah mengerogoti pola hidup masyarakat moderen saat ini. Segala sesuatu diukur dengan materi. Kekuatan, kemuliaan, kesenangan, kesuksesan, dan sebagainya, semua diukur dengan materi.

Hasil dari pola pikir macam ini, menyebabkan orang-orang memiliki hasrat tinggi untuk memiliki, menguasai, mengeruk keuntungan pribadi/kelompok, sebesar-besarnya, tanpa harus memikirkan, mempedulikan nasib orang lain. Kasus merebaknya praktek KKN di negeri ini adalah salah satu buah yang dihasilkan dari faham materialisme ini.

Karena ulah faham ini pula, seseorang akan enggan membantu atau pun berkorban untuk orang lain. Kalau pun mereka bisa, maka setidak-tidaknya harus ada imbalan balik yang harus mereka tererima sebagai konsekwensi dari pemberian yang mereka salurkan.

Maka tidak mengherankan kalau kita dapati beberapa tahun silam, pasca pemilihan umum, terdapat calon anggota dewan yang mengambil kembali sumbangannya di masyarakat, karena di waktu pemelihan tersebut, masyarakat sekitar tidak memilih dia sebagai calon wakil rakyat. Sungguh memprihatinkan dan memalukan.

Sandarkan Kepada Allah Semata

Oleh: Ali Akbar Bin Agil
Sumber: Hidayatullah 


TIADA keberuntungan yang sangat besar dalam hidup ini, kecuali orang yang tidak memiliki sandaran, selain bersandar kepada Allah. Dengan meyakini bahwa memang Allah-lah yang menguasai segala-galanya; mutlak, tidak ada satu celah pun yang luput dari kekuasaan Allah, tidak ada satu noktah sekecil apapun yang luput dari genggaman Allah. Total, sempurna, segala-galanya Allah yang membuat, Allah yang mengurus, Allah yang menguasai.


Adapun kita, manusia, diberi kebebasan untuk memilih, "Faalhamaha fujuraha wataqwaaha".
"Dan sudah diilhamkan di hati manusia untuk memilih mana kebaikan dan mana keburukan". Potensi baik dan potensi buruk telah diberikan, kita tinggal memilih mana yang akan kita kembangkan dalam hidup ini. Oleh karena itu, jangan salahkan siapapun andaikata kita termasuk berkelakuan buruk dan terpuruk, kecuali dirinyalah yang memilih menjadi buruk, naudzubillah.


Sedangkan keberuntungan bagi orang-orang yang bersandarnya kepada Allah mengakibatkan dunia ini, atau siapapun, terlampau kecil untuk menjadi sandaran baginya. Sebab, seseorang yang bersandar pada sebuah tiang akan sangat takut tiangnya diambil, karena dia akan terguling, akan terjatuh. Bersandar kepada sebuah kursi, takut kursinya diambil. Begitulah orang-orang yang panik dalam kehidupan ini karena dia bersandar kepada kedudukannya, bersandar kepada hartanya, bersandar kepada penghasilannya, bersandar kepada kekuatan fisiknya, bersandar kepada depositonya, atau sandaran-sandaran yang lainnya.

Bermuhasabah Sebelum Yaumul Hisab

Oleh: Ali Akbar Bin Agil
Sumber: Hidayatullah


ALKISAH, suatu hari Atha As-Salami, seorang Tabi`in bermaksud menjual kain yang telah ditenunnya. Setelah diamati dan diteliti secara seksama oleh sang penjual kain, sang penjual kain mengatakan, “Ya, Atha sesungguhnya kain yang kau tenun ini cukup bagus, tetapi sayang ada cacatnya sehingga saya tidak dapat membelinya.”


Begitu mendengar bahwa kain yang telah ditenunnya ada cacat, Atha termenung lalu menangis. Melihat Atha menangis, sang penjual kain berkata, “Atha sahabatku, aku mengatakan dengan sebenarnya bahwa memang kainmu ada cacatnya sehingga aku tidak dapat membelinya, kalaulah karena sebab itu engkau menangis, maka biarkanlah aku tetap membeli kainmu dan membayarnya dengan harga yang pas.”


Tawaran itu dijawabnya, “Wahai sahabatku, engkau menyangka aku menangis disebabkan karena kainku ada cacatnya, ketahuilah sesungguhnya yang menyebabkan aku menangis bukan karena kain itu. Aku menangis disebabkan karena aku menyangka bahwa kain yang telah kubuat selama berbulan-bulan ini tidak ada cacatnya, tetapi di mata engkau sebagai ahlinya ternyata ada cacatnya.


“Begitulah aku menangis kepada Allah dikarenakan aku menyangka bahwa ibadah yang telah aku lakukan selama bertahun-tahun ini tidak ada cacatnya, tetapi mungkin di mata Allah sebagai ahli-Nya ada cacatnya, itulah yang menyebabkan aku menangis.”

Senin, 31 Oktober 2011

Sekadarnya, Secukupnya!!!

Oleh : Herry Nurdi

Berhadapan dengan seseorang atau sekelompok manusia yang melakukan kesalahan adalah, agar mereka mau menerima nasihat dan memperbaiki diri. Tapi banyak di antara kasus yang terjadi di sekeliling kita, ketika bertemu dengan seseorang yang melakukan kesalahan, justru target utamanya adalah membuat mereka merasa bersalah dan terpojokkan. Maka janganlah heran jika kita menemukan orang dan banyak kelompok menerapkan strategi untuk membela diri, mencari berjuta kilah, dan jika perlu memutarbalikkan fakta. Karena, sangatlah manusiawi, manusia tak ada yang mau dipersalahkan, apalagi dituding sebagai bertanggung jawab atas segala kekacauan.

Karena itu, dalam banyak kasus pemberian nasihat dan menegur kesalahan, Rasulullah menerapkan target bukan pengakuan kesalahan dari yang bersangkutan. Tapi kejujuran perasaan, penerimaan nasihat, dan perbaikan diri menuju kondisi yang lebih baik lagi.

Pemuda, Pengendali Perubahan, dan Pembuktian

Sumber : Dakwatuna.com

Pemuda, kata yang sudah tak asing lagi terdengar di telinga khalayak. Kata tersebut terdengar sampai seantero Indonesia ketika momentum sumpah pemuda 1928, kemerdekaan 1945, dan reformasi 1998. Bahkan kata tersebut sering dihubung-hubungkan dengan perubahan dan cita-cita. Namun sesungguhnya apakah pemuda? Siapa yang menyandang gelar pemuda, umurkah yang menentukan? Dan bagaimana profil pemuda ideal yang tentunya disukai Allah? Mari kita kupas tentang pemuda.

Identitas dan Keistimewaan Pemuda

Banyak yang menyatakan pemuda sebagai agent of change, kenapa? Karena pemuda adalah harapan bangsa, ia adalah agen-agen perubah di negerinya berada. Tapi lebih dari itu, pemuda bak motor gerakan sebuah entitas yang ingin selalu membuat perubahan demi terciptanya cita. Lalu seperti apa identitas pemuda? “Umur dan watak adalah dua unsur penting dalam identitas pemuda sekaligus pembeda dengan golongan lainnya : kaum tua, balita, anak-anak, dan remaja.” Ujar Mi’raj Dodi Kurniawan, seorang mantan aktivis Islam Bandung. Umur, sebagian pihak mengelompokkan antara umur 25 dan 35 sebagai pemuda, ada juga pihak yang menyatakan pemuda berada di antara umur 20 sampai 45. Jika kita melihat umur yang dikelompokkan, pemuda bisa digambarkan sebagai kaum yang energik, mempunyai fisik prima dan bertenaga sedangkan yang lemah dan tak bertenaga adalah kaum tua. Berbanding lurus dengan unsur yang kedua, watak, pemuda memiliki watak pendobrak tatanan layaknya Nabi Musa yang melawan kesewenang-wenangan Firaun, dan kaum tua cenderung berwatak anti perubahan dan mempertahankan status quo seperti para rezim otoriter pada umumnya.

Minggu, 30 Oktober 2011

Agar Anak Tidak Malas Belajar

Sumber : (Sarah Handayani/ummi online)

Berbagai upaya sudah dilakukan agar anak semangat belajar. Tapi, hasilnya justru sebaliknya. Seringkali penyebabnya muncul dari orangtua. 

Memahami anak sebagai individu yang sedang menjalani tahapan-tahapan dalam masa pertumbuhannya, diperlukan kesabaran ekstra. Demikian pula ketika mendapati anak yang telah memasuki usia sekolah begitu malas belajar. Mengandalkan guru untuk menyelesaikan masalah? Tentu tak bisa begitu.

Apalagi bila kita menyadari bahwa anak sesungguhnya memulai pendidikannya dari rumah. Sehingga, peran orangtua untuk membantu secara langsung kesulitan yang dialami anak merupakan hal yang sangat penting. Mencari penyebabnya adalah langkah awal untuk menerapkan solusi yang tepat.

Robert D. Carpenter MD adalah seorang peneliti yang pernah mengadakan pengamatan terhadap perkembangan belajar murid sekolah dasar di California, Amerika Serikat. Dalam pengamatannya ditemukan adanya penyebab mengapa anak-anak kerap mengalami masalah dalam belajar yang cenderung membuat mereka jadi malas. Berikut ini empat penyebab yang kerap terjadi dan menyebabkan anak malas belajar.
 

Jumat, 14 Oktober 2011

Berdekat-dekatlah Dengan Al-Qur'an

Sumber : Dakwatuna.com

“Orang yang dalam dadanya tidak ada sedikit pun dari Alquran, ibarat rumah yang bobrok.” (HR. At-Tirmidzi)

Maha Bijaksana Allah swt. yang menciptakan kehidupan dengan segala kelengkapannya. Laut yang luas dengan segala kandungannya. Langit yang biru dengan gemerlap hiasan bintang-bintangnya. Dan kehidupan manusia dengan kelengkapan aturan dan rambu-rambunya.

Berdekat-dekatlah dengan Al-Quran, hati akan memperoleh kesegaran. Hati sebenarnya mirip dengan tanaman. Ia bisa segar, layu, dan kering. Karena itu, hati butuh sesuatu yang bisa menyuburkan: siraman air yang menyejukkan, kehangatan matahari yang menguatkan, dan tanah gembur yang banyak makanan.

Untuk hati, siraman air adalah cahaya Al-Quran, kehangatan matahari adalah nasihat, dan tanah gembur merupakan lingkungan yang baik. Hati yang selalu dekat dengan Al-Quran bagaikan tanaman yang tumbuh di sekitar mata air nan jernih. Ia akan tumbuh subur dan kokoh.
 

Tawadlu' Itu Penting

Oleh : Samson Rahman
Sumber : Eramuslim.com

Salah satu sifat utama yang harus melekat pada seorang mukmin adalah sifat tawadhu (rendah hati). Bahkan Allah menyebutkan bahwa hamba-hamba Sang Maha Rahman akan senantiasa berjalan di muka bumi dengan rendah hati tanpa ada rasa congkak dan sombong yang bersarang dalam dada mereka.

Allah swt berfirman:
"Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik." (QS. Al-Furqan [25] : 63)

Tawadhu’ adalah sifat mulia yang menjadikan seseorang tidak merasa lebih besar dari orang lain dan tidak merasa lebih tinggi dari yang lain. Bagi orang-orang yang tawadhu’ manusia lain sama posisinya dengan dirinya walaupun dia sedang berada dalam kedudukan tinggi dalam pandangan manusia. Orang-orang yang tawadhu’ menyadari bahwa kemuliaan seseorang bukan dilihat dari posisi dan jabatannya, bukan dari pangkat dan hartanya, kedudukan mereka di lihat dari ketakwaan yang melekat pada dirinya. Nilai dan kemuliaan seseorang di mata Allah adalah tergantung pada ketinggian takwanya, dan kekokohan imannya.