Tampilkan postingan dengan label Bisnis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bisnis. Tampilkan semua postingan

Jumat, 07 September 2012

Berlindung dari Hutang, Berharap Berkah dari Syirkah

Oleh: Muhaimin Iqbal
Sumber: eramuslim.com
 
Seorang teman saya memiliki usaha penerbitan skala sedang yang  dibangunnya lebih dari seperempat abad. Dia sama sekali tidak mau menggunakan uang bank atau uang orang lain untuk mengembangkan usahanya, apapun yang bisa dia bangun dengan kekuatan sendiri itulah yang dia lakukan. Prinsipnya ini sejalan dengan do’a yang dia lafadzkan setiap pagi dan petang “…wa a’dzubika min ghalabatiddaini…” dan aku berlindung kepadaMu dari lilitan hutang…” Apa yang dia lakukan ini insyaAllah merupakan kebaikan tersendiri, tetapi sesungguhnya dia bisa berpeluang untuk mendatangkan lebih banyak keberkahan apabila dia mau bersyirkah.
 
Hutang memang seharusnya dijauhi, oleh sebab itulah kita dicontohkan untuk berdoa setiap pagi dan petang untuk berlindung dari lilitan hutang ini. Tetapi syirkah (Persekutuan
usaha untuk mengambil hak atau beroperasi-ed) mendatangkan berkah, sesuatu yang mendatangkan berkah tentu perlu dikejar bukan dijauhi.
 
Keberkahan syirkah ini seperti yang terungkap dalam hadits : “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla berfirman, ‘Aku adalah pihak ketiga dari dua orang yang bersyirkah, selama salah seorang dari keduanya tidak mengkhianati yang lain. Jika salah seorang di antara keduanya mengkhianati yang lain, maka aku keluar dari persyirkahan tersebut’” (HR. Abu Dawud dan Hakim).

Rabu, 17 Desember 2008

Perjalanan Awal Fithroh Pustaka

Sekedar untuk berbagi

Usaha ini dimulai pada bulan April tahun 2004, bertempat di Kecamatan Sidayu Kabupaten Gresik. Berawal dari perbincangan dengan Bapak saya tentang bagaimana cara mengelola uang sisa gaji bulanan dengan baik. Waktu itu saya baru 3 bulan resmi menjadi karyawan kontrak di Jawa Pos Group. Memang ada opsi untuk tetap menyimpan di rekening Bank, tetapi menurut saya lebih baik lagi kalo bisa bermanfaat lebih. Hasil perbincangan dengan bapak benar-benar memberi hasil sempurna, bagaimana tidak, kami satu arah dan saling setuju ketika saya berinisiatif untuk “jualan” dengan pertimbangan dari beliau “jualan sesuatu yang membawa kebaikan”, memang jalan pikiran beliau tidak pernah lepas dari kemaslahatan umat (sejak muda beliau aktif bergabung dengan salah satu ormas Islam, menjadi penggerak masyarakat, dan pernah juga menjabat pemimpin resmi ormas tersebut).

Dan yang kami pilih adalah “jualan Al-Qur’an”. Waktu itu gaji saya 1.200.000 rupiah, memang tidak besar tapi Alhamdulillah sebulan bisa saya sisihkan 600.000 rupiah tanpa harus memaksa untuk berhemat. Mungkin karena saya waktu itu belum menikah dan juga belum tertarik untuk belanja property. Sebenarnya, 2 bulan sebelumnya saya sudah bisa menyisihkan gaji dengan jumlah yang sama, akan tetapi saya masih belum ada inisiatif untuk berjualan jadi saya investasikan dalam bentuk hewan ternak.

Bapak saya punya langganan Al-Qur’an di daerah Ampel tepatnya Jl. Sasak, beliau sering beli untuk madrasah Al-Furqon dan juga Masjid Al-Furqon, jadi saya tidak harus susah payah mencari tempat kulakan (grosir).

Baca Selengkapnya